Showing posts with label Tantangan Menulis. Show all posts
Showing posts with label Tantangan Menulis. Show all posts

Saturday, August 14, 2021

TUMIS PARE CABE RAWIT DARI HASIL PANEN SENDIRI

 


Pandemi covid 19 melanda dunia tak terkecuali negara kita tercinta Indonesia. Pandemi yang dimulai akhir Desember 2019 yang konon dimulai dari negeri Cina tersebut sudah hampir 2 tahun berlalu. Kalau di Indonesia dimulai bulan Maret 2020. Sudah lebih setahun. Sejak adanya pandemi semua kegiatan kantor dan sekolah dilakukan di rumah. Ibadah juga dari rumah. Perayaan Idul Fitri, Idul Adha dilakukan di rumah. Kegiatan mudik ditiadakan. Sekolah pun melakukan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Belajar dari rumah. Guru memberikan materi dari rumah.Siswa menerima pelajaran di rumah. Semua sector mendapatkan dampak dari adanya pandemic covid 19 tersebut.

Pak Wijaya guru di SMP Labschool Rawamangun ikut merasakan dampaknya. Beliau harus mengadakan pembelajaran jarak jauh. Tidak ada tatap muka lagi. Namun pembelajaran tetap berlangsung dengan menyenangkan. Kesibukan selain mengajar beliau adalah narasumber nasional. Banyak kegiatan seminar dan webinar yang dilakukan. Pak Wijaya juga mempunyai kelas menulis guru yang sudah sampai gelombang 20. Luar biasa kegiatan pak Wijaya dari pagi hingga malam hari. Namun beliau tidak melupakan menulis setiap hari di blog. Banyak tulisan di blog yang menarik. Dari blognya sudah berapa buku saja yang terbit.

Diluar kegiatan tersebut, pak Wijaya masih menyempatkan bercocok tanam. Memanfaatkan tanah pekarangan di sekitar rumahnya.  Tanah yang tadinya tak terurus karena aktifitas mengajar sebelum pandemic yang sibuk. Sekarang saat semua kegatan dilakukan dirumah masih ada waktu untuk membersihkan tanah tersebut. Awalnya menanam kangkung hingga panen. Setelah itu merasa berhasil kemudian pak Wijaya menanam cabe  dan pare. Kita semua tahu cabe adalah pelengkap masakan yang rasanya pedas. Masakan kurang lengkap tanpa ada rasa cabenya. Pare sering kita jumpai di jajanan somay.

Pandemi membuat harga cabe mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Harga cabe mahal. Padahal daya beli masyarakat masih tinggi. Namun perekonomian yang sulit ini membuat  masyarakat akhirnya menanam cabe sendiri. Menanam cabe dirumah menjadi solusi untuk menghemat pengeluaran selain kita bisa memetik semaunya. Menanam cabe juga tidak terlalu sulit, sediakan tanah, siapkan bibit cabenya dan taburkan diatas tanah tersebut. Setelah tumbuh tinggal dipelihara dengan memberikan pupuk dan beberapa bulan kemudian kita bisa memanennya.

Pare adalah salah satu tanaman merambat sejenis labu-labuan. Pare terkenal dengan rasanya yang pahit. Walaupun pahit tanaman pare memiliki khasiat untuk menyembuhkan beberapa macam penyakit. Budidaya pare ternyata juga tidak terlalu rumit. Siapkan lahannya, buat lubang tanam dan diberi pupuk. Masukkan biji pare  dan tutup tipis dengan tanah . Setelah tumbuh lakukan pemeliharaan hingga berbuah dan panen.

Hari ini pak Wijaya memanen apa yang pernah di tanam. Benar kata pepatah siapa yang menanam dia yang akan memanen. Tanaman pak Wijaya cabe dan pare hari ini sudah bisa dipetik. Kebetulan sang istri sudah menyiapkan menu khusus yaitu tumis pare cabe rawit. Dengan ditumis pare akan menjadi masakan yang lezat, nikmat serta menjadi ketagihan. Apalagi ketika pare ditumis pedas rasanya akan semakin luar biasa. Dengan menanam sendiri bahan makanan kita aka akan memperkuat ketahanan pangan. Apabila setiap keluarga mau bertanam sayur mayor maka Negara ini akan kuat.

Tantangan menulis

Penulis : Agung Pramono

Friday, July 30, 2021

MAKAN SIANG PEMACU SELERA


 

Siang ini hidup ini terasa istimewa, setelah istri tercinta memasak kesukaan saya. Maka setelah menyelesaikan kelas PJJ, istri langsung mengajak untuk makan siang. Tadi pagi saya belum sempat sarapan hanya beberapa potong singkong yang menemani beserta segelas teh panas. Kata orang jawa teh "ginastel" Teh yang manis, panas dan kental. Ternyata sarapan pagi tadi tidak bisa membuat perut ini sampai adzan dhuhur. Jam 11.00WIB tadi sebetulnya sudah protes minta diisi. Namun setelah saya beri pengerian bahwa masakan belum matang maka dia tidak protes lagi

Dulu jaman susah makan nasi putih dengan tempe goreng plus sambel kecap sudah nikmat. Inget jaman masih susah. Maaf ya kalau suka menceritakan dulu, biar sekarang tambah bersyukurnya. Kalau pas lagi gajian tempenya diganti telor ceplok, nikmat benar. Ini menu kesukaan saya. Makanya tadi istri pergi ke warung sayuran katanya mau masak yang spesial buat saya. Ternyata masakan spesial bener.  Malah ini ditambah lauk yang bermacam-macam.

Istri menggelar karpet merah untuk makan siang ini. Kata orang sekarang makan lesehan. Cuma nggak ada meja makan kecil seperti di warung-warung tenda lesehan. Nasi cap Rojo lele yang terkenal pulen sudah membuat selera makan ini bagai pedal gas yang diinjak poll. Langsung lari ingin makan saja. Tanpa apa-apa kalau nasinya sudah enak maka makanpun lahap. Teman dari nasi istri membuat oseng-oseng wortel dan sedikit kacang. Oseng-oseng ini membuat tambah nikmat saja.

Agar selera tambah maka sambel kecap tersaji. Irisan cabe dicampur kecap menambah sensasi makan siang saya, apalagi ditemani istri tercinta. Kebetulan anak-anak lagi nggak dirumah, maka serasa rumah milik berdua. Eh lupa saya pun mengambil ikan Nila merah. Ikan yang dibumbui ketumbar dicampur garam terus di goreng dimakan saat panas, wuih..yummy...yummy kata anak sekarang.

Ternyata ada sambel goreng ati yang dibuat istri saya sampai saya bingung untuk memakannya yang mana dulu ini. Tempe goreng tanpa baju eh tanpa tepung penambah selera makan saya untuk nambah lagi. Siasat saya kalau nambah pasti lauknya saya nggak habiskan, sehingga kalau nambah enak dan istri tidak komentar. Lauk masih nambah nasi, tatkala mau nambah lauk maka nasi jangan dihabiskan. Sehingga nambah nasi,nambah lauk tanpa kelihatan kalau makan kita banyak...

Hidup kalau kita syukuri, kata pak ustadz maka akan ditambah nikmat kita. Makanya kita bersyukur bila hari ini makan yang komplit. Maka masakan istri harus kita nikmati dengan senikmt-nikmatnya. Jangan pernah menolak atau mencela masakan istri, pasti besoknya tidak mau masak yang spesial lagi.

=======================

Penulis : Agung Pramono

Gelombang 20

 


Mau Jadi Penulis maka Menulislah

Malam ini saya mengikui Kelas Belajar Menulis Nusantara dengan narasumber  Dr. Wijayakusumah,M.Pd dan moderator Raliyanti, S.Sos M.Pd ...